Latest Stories

Subscription

FREEWESTPAPUANOW!

TOP 5 Most Popular Post

Recently Comments


    PILIHAN BERITA DISINI

Translate

News

News

Spanduk dalam demo FK Uncen (Jubi/Mecky)
Jayapura,30/7—Bhen, Sinthike, Ghaema dan Ahyub yang mengikuti kuliah Farmakologi (ilmu tentang obat) siang itu  duduk berdampingan dan berdesak-desakan. Satu ruangan itu tidak mampu menampung ratusan mahasiswa. Pihak kampus mempertahankan situasi itu tanpa alasan dan penjelasan yang masuk akal.

Herannya,  ratusan mahasiswa itu tidak pernah menyoal kampus mereka. Mengapa kampus mereka kekurangan fasilitas hingga kekurangan tenaga pengajar? Apakah sistem perkuliahannya berjalan sesuai dengan standard pendidikan kedokteran atau tidak?

Mereka tutup mulut. Mereka lebih memilih datang, duduk, dengar, demam, dan pulang. Mereka menikmati itu sangat biasa saja dari hari ke hari. Mereka yang baru tidak mungkin menyoal budaya diam kecuali masuk menjadi aktor baru. Entah sebagai mahasiswa maupun dosen.

“Keadaan ini menjadi sesuatu yang biasa. Kita ikuti saja proses yang sedang terjadi,”tutur para dosen yang hari-hari jungkir balik berhapan dengan ratusan mahasiswa. Panitia penerima mahasiswa baru copy paste pesan kebiasaan itu kepada mereka yang baru.

“Sampai kapan? Kami akan terus belajar dalam situasi seperti ini?”tutur Ghaema, mengelus ruangan yang sesak dan panas sambil membasuh keringat yang terus mengalir di wajahnya yang cantik hitam manis.

Ungkapan itu terlontar begitu saja dengan nada yang datar tetapi terdengar tegas dari tekanannya suaranya.

“Itu lagi. Ini sudah semester 6 baru trada perubahan ini bagaimana? Bukannya setahun lagi, kita akan wisuda? Apa yang mau dibanggakan jika cara belajar dan situasi kampus seperti ini?” tutur Sinthike merespons Ghaema, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kawan, 12 tahun fakultas kedokteran ada di atas tanah Papua ni. Dari tahun ke tahun, bukannya bertambah baik tetapi ini malah menjadi statis, bahkan berkembang mundur.

“Mahasiswa angkatan awal yang su jadi dokter tu dong andalan-andalan e…??? Mereka mungkin karena masih hangat-hangat jadi bagus e….??? Saya pikir kitong skarang ni bisa jadi seperti dong ka tra e…??? Adoo sa mau jadi dokter tapi macam situasi tra mendukung ka??,”Sintikhe menyoal.

“Io kawan, Apalagi dengan satu pemimpin yang sama dia pasti jenuh makanya proses penyelenggaraan pendidikan fakultas ini semakin buruk. Kemungkinan akibat kejenuhan memimpin dan merangkap tugas. Saya pikir dia butuh istirahat dan kosentrasi pada satu subbidang tugas penyelamatan manusia Papua” imbuh Ghaema.

“Kamu, kalau tidak salah, sa dengar tu, kampus ini implementasi Otonomi Khusus Papua, tetapi mengapa pemerintah daerah ini tra pernah tambah fasilitas gedung belajar yang lebih efektif ka? Masa kita belajar begini-begini terus besok kita mau menyembuhkan atau membunuh ini? Kita bisa-bisa menjadi pembunuh berdarah dinggin dengan sistem pembodohan ini,” sambung Ahyub yang sedari tadi hanya mendengar.

“Kalau memang kampus ini implementasi Otsus, pasti akan ada dana yang dianggarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten tiap tahunnya untuk kedokteran. Saya pikir tidak mungkin tidak ada aggarannya. Saya pikir ada dananya, hanya hilang masuk ke lubang kantong tikus kampus,” sahut Bhen ketus.

“Kalau begitu, mesti ditelusuri perjalanan dana itu, takandas di kamar mana? Masa kita mahasiswa dirugikan sementara pemimpin menutup mata dan berbuat seolah-olah semua yang ada baik-baik saja dan masih dalam batas kewajaran ini tidak benar dan ini satu proses pembunuhan,” sambung Ahyub lagi.

Keringat terus mengucur diwajah tiap mahasiswa karena suhu dalam ruangan yang sangat panas. Panas cuaca di luar ruanganmaupun karena panas tubuh yang ada dalam ruangan. Ruangan merubah seperti oven dan mahasiswa seperti roti yang sedang dipanggang.

Karena itu, sejak 10 menit awal pertemuan, mahasiswa sudah tidak dapat berkosentrasi dengan materi yang disajikan. Sebagian besar mahasiswa memilih berpura-pura mengikuti kuliah, walaupun mereka sudah sangat ingin meninggalkan ruangan.

Ruangan sangat sempit hingga memuntahkan mahasiswa harus duduk hingga di koridor. Mereka duduk dalam rungan saja kehilangan kosentrasi, apali mereka yang duduk diluar. Mereka mencari jalan mengtasi apa yang mereka rasakan. Ada yang membuka laptop untuk menghilangkan rasa bosan atau mempersingkat waktu ceramah atau seminar di ruang kuliah itu.

Bhen memperhatikan situasi ruangan dan menggelengkan kepala. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan kasar.

“sudah tiga tahun kami belajar, dengan situasi dan kondisi yang sangat tidak mendukung. Ini lebih seperti formalitas supaya orang mengatakan ada fakultas kedokteran di Papua, pemimpin di fakultas ini saja tidak pernah ada di tempat lalu bagaimana persoalan-persoalan real ini bisa terselesaikan?” ungkap Bhen dengan kesal.

Ungkapan itu menarik perhatian Ghaema, Sinthike, dan Ahyub tidak konsentrasi belajar. Mereka berkostrasi kepada ungkapan Bhen dan sibuk mempersoalkan keadaan yang sungguh sangat tidak mendukung proses belajar itu.

“Kebanyakan pemimpin berkoar-koar untuk meningkatkan angka kesejahteraan rakyat Papua tetapi mereka tidak kerja untuk mewujudkannya. Papua ini banyak kematian sebelum waktunya. Banyak orang mudah mati karena penyakitt dan luka. Fakultas kedokteran mesti memberikan jawban atas situasi itu, namun apakah dengan realita belajar yang seperti ini semua harapan dapat tercapai?

Saya pikir tentu akan sangat sulit. Tempat pendidikan yang mempersiapkan manusia mengatasi masalah itu sungguh menjadi tempat yang formalitas belaka. Orang pikir yang penting ada fakultas kedokteran, ada sertifikat para lulusannya tanpa memperhatikan kualitasnya. Sangat memprihatikan”, tutur Bhen panjang lebar.

“Itu lagi! Jadi ini sebenarnya dana Otonomi Khusus Papua su sampe di Fakultas kedokteran ka belum ni? Kalau belum mengapa ada fakultas ini? Kalau sudah, hilang dikamar mana ni? Pasti ada yang sangat bertanggung jawab untuk semua ini? Dia itu yang paling tahu kamar-kamar FK ni jadi dia yang ada di kamar mana ni?” tambah Ahyub

Pernyataan itu membuat situasi berubah. Suasana ruangan menjadi tenang dan sunyi. Dosen menghentikan ceramah panjangnya. Teman-temannya sesama mahasiswa menatap Bhen dan berpikir apa yang akan terjadi.

“Nanti tunggu sms saja dari ketua kelas kapan lagi kita kuliah. Saya ada mau keluar kota jadi, selamat siang…” kata dosen sambil mengambil tasnya dan keluar ruangan. (Auragahe/Mawel)

Posted in: | Thursday, July 31, 2014

Komite Pusat
Aliansi Mahasiswa Papua (KP-AMP)
PERNYATAAN SIKAP
Salam Pemberontakan..!
Puji syukur kepada Tuhan YMK. atas lindungan dan rahmatnya kepada kita, sehingga kita senantiasa dapat menjalankan seluruh aktifitas sehari-hari dalam pengabdian dan pekerjaan di tengah massa rakyat Papua dan pekerjaan kita sebagai mahasiswa.
Berkaitan dengan beredarnya seruan gelap dengan judul “SERUAN DAN PENYESALAN” yang mengatasnamakan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Jakarta, Jawa dan Bali, Kawan Roy Karoba di Kota Yogyakarta. Maka Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua (KP-AMP) merasa perlu untuk memberikan klarifikasi terkait isi seruan dimaksud.
Pertama, seruan tersebut adalah seruan gelap yang bertujuan merusak citra perjuangan yang diemban AMP selama ini bagi Kemerdekaan Sejati Rakyat dan Bangsa Papua.
Kedua, Kawan Roy Karoba adalah mantan Ketua Kota AMP Yogyakarta dan saat ini aktif sebagai anggota biasa, sehingga jelas bahwa seruan tersebut dibuat oleh Aparat Indonesia (TNI/Polri) yang tidak mengetahui keadaan organisasi AMP di Yogyakarta maupun secara Nasional Papua.
Ketiga, AMP akan selalu memperjuangkan Kemerdekaan bagi Bangsa Papua Barat hingga Kemerdekaan itu terwujud.
Keempat, tidak ada kata ‘Setia’ kepada NKRI yang ada adalah setia kepada perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat.
Kelima, kepada Kawan-kawan mahasiswa Papua di Yogyakarta maupun yang ada di pulau Jawa dan Bali untuk tidak terprovokasi oleh seruan maupun isu-isu yang menyesatkan. Tetap solid di barisan dan jalankan tugas sebagai mahasiswa untuk mempersiapkan diri membangun Bangsa dan Negara Papua Barat.
Keenam, AMP akan tetap berjuang untuk Kemerdekaan Bangsa Papua sebagai Negara Merdeka bebas dari cengkraman Kolonialisme Indonesia.
Demikian klarifikasi ini kami buat, atas perhatian dan kerja sama yang baik dari kita semua, kami ucapkan jabat erat. Salam!
Papua, 23 Juli 2014
Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Papua

Ttd
Rinto Kogoya

Posted in: |
Korban Yumiker Pigai Umur 20 Tahun
NABIRE--- Kekerasaan demi kekerasahan terus dilakukan oleh militer Indonesia diatas tanah papua barat, pembunuhan menjadi teman hidup diatas tanah papua. Militer Indonesia dengan misi untuk memusnahan orang papua semakin nyata terjadi diatas tanah papua barat.

Media –media yang dikelola diatas tanah papua semakin membungkam semua persoalan yang terjadi diatas tanah papua barat.
Pembunhan berkarakter yang dilakukan militer Indonesia TNI/Polri kembali terjadi malam ini jam 11;09 terhadap seorang pemuda bernama Yumiker Pigai berumur 20 tahun masyarakat Kab, Dogiyai.

Kronologi Kajadian:

Sorenya korban atas nama Yumiker Pigai jalan bersama teman-temannya ke tempat acara di karang barat Nabire, Korban bersama teman-temannya mengkomsumsi minuman Berarkohol “Bir bintang” lalu mengikuti acara dansa yang di lakukan oleh temannya di karang barat kab. Nabire.
Minuman beralkohol yang di minum oleh korban tidak terlalu banyak hanya sedikit yang biasa menyegarkan otak sebentar lalu kami lanjut dansa hingga malam itu mulai larut, kata salah satu, teman yang saat itu menemani banyat di rumah sakit Umun Sriwini Nabire.
Pada jam 11;10 wpb malam korban meninggalkan teman-temannya keluar dengan menggunakan kendaraan temannya tanpa tujuan, teman-temanya menunggu namun korban tidak balik-balik.
Korban baru di temukan di bukit meriam pada 03.00 pagi oleh kepolisian dalam keadaan tidak bernyawa, melihat itu pihak polisi lansung membawah kerumah sakit umum Sriwini Nabire. Dari kepolisian mengatakan korban jatuh dari motor, namun kenyataan yang dilihat dari foto korban tidak sesuai dengan apa yang dikatakan kepolisian.
Ketika tibah di RSUD Sriwini, ada seorang masyarakat memberikan beberapa pertanyaan ketika kepada polisi namun polisi tidak menjawab meninggalkan mayat lalu pergi.
Jika melihat kenyataan yang terjadi, pembunuhan yang dilakukan ini berkarakter oleh orang-orang terpelajar dan terlati, bukan sebuah tabrakan.
Catatan :
Melihat dengan mata kepala pada jam 10;00 Wpb di rumah sakit Umum Sriwini Nabirre. Korban setelah di tabarak dari belakan diangkat dengan mobil lalu memukul dari atas mobil, karena nafasnya masih ada Korban di ikat dengan Besih di darah lalu menghilangkan nyawanya.

Dengan kejadian misterius ini Korban mengalami Luka-luka pada kepala, kepada lembek dipikul dengan alat berat, Tikaman Pada Hidung dengan Pisau Sangkur, Luka Lecep pada tngan Kiri dan tangan kanang, memerah didada diikat dengan tali besih, dan mengalami Tusikan pisau pada Kaki kiri, Luka lecet pada kaki kiri dan kanang. (Degoo)

SUMBER: http://suarabintangtimur.blogspot.com/
Posted in: , | Tuesday, July 29, 2014

TIMIKA—Lagi-lagi malam ini, Militer Indonesia memantau aktivitas Aktivis Knpb-Prd Wilayah Bomberay disekitar kantor komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Parlemen Rakyat Daerah (PRD) Wilayah Bomberay, kali ini Densus 88 Brimod dan Badan Inteljen Negara (BIN) menggunakan 1 Mobil Avansa hitam, 1 mobil Perintis Desus 88 dan 1 mobil Barak kuda Brimob didalamnya dimuat anggota Brimob dan Densus 88.

"Mereka memasuki kompleks Jalan Freeport lama dekat dengan Kantor KNPB & PRD Wilayah Bomberay, untuk memantau situasi aktivitas kantor dan apa tujuan mereka tidak jelas."

Pada hari senin tanggal (28/07/2014), malam pukul 21.30 Wpb. Ada salah satu mobil perintis milik Densus 88 dengan kecepatan tinggi melewati Kompleks Kantor. Selama satu jam mobil Perintis Densus 88 Posisi didalam Kompleks kantor, kemudian mobil tersebut kembali melewati jalan yang awal mereka lewat kearah Gorong-gorong.

Lalu, selanjutnya, pada pukul 21:30 Wpb,  tiba-tiba ada mobil avansa hitam dan Barak kuda (Brimob dan Densus 88) muncul dan masuk dikompleks kantor dekat jalan Freeport lama mereka memantau situasi kompleks Bendungan.

Mereka memantau Selama satu jam lebih, kemudian pada pukul 22:30 Wpb, mobil-mobil tersebut keluar dari kompleks, karena dikantor tidak ada kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Kemudian, pukul 12:00 Wpb, sekelompok orang yang dipakai oleh Inteljen Indonesia di kuasai oleh mimuman keras (Miras) berasal dari suku key berlari-lari saling kejar dengan suara keras “bunuh dia, hajar dia, kejar dia, tangkap dia” katanya,

Mereka, memasuki kompleks Kantor, jalan sosial kebun siri, mereka memancing Emosi anggota militan Knpb yang sedang jaga piket malam. Tapi kemanan knpb tetap tenang tidak terpancing, lalu mereka takut dan pergi karena  tiba-tiba hujan besar turun.

Sebelumnya juga tiga orang anggota TNI (KOPASUS) pakian senjata lengkap memasuki Kompleks Kantor pada hari kamis tanggal 24 juli 2014 kemarin pukul 21:50 wpb,  tiga orang anggota tentara nasional. Memasuki areal kantor untuk memantau aktivitas kantor.

Kebetulan anggota militan  KNPB  sedang berpiket malam, dan mengelilingi disekitar kompleks kantor, ketemu dengan dua anggota TNI Kopasus bersenjata dengan berpakaian  dinas lengkap berdiri di samping rumah warga di tempat yang  gelap.  Selanjutnys satu  orang anggota menggunakan kendaraan bermotor memantau di jalan pendidikan.

Lalu anggota militan KNPB  bertanya: ” selamat malam,bapak. Bapak berdiri disini  sedang buat apa ditempat yang gelap sini,dan tujuannya  mau kemana”?

Jawab anggota TNI bahwa  “kami datang hanya jalan-jalan saja”. Lalu  tidak lama lagi 5 menit kemudian anggota TNI tersebut meninggalkan kompleks kantor Papua merdeka dan pulang pakai kendaraan  motor pergi kearah kebun sirih dalam. (Un/Son T)

Sumber:knpbnewsTimika



Posted in: , , , , | Monday, July 28, 2014
Perayaan HUT ke-16 AMP Jawa Barat. Foto: Mateus Badii

Bogor, MAJALAH  SELANGKAH -- Pemuda dan Mahasiswa Papua di Jawa Barat (Bogor, Bandung dan Jakarta) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) meperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 AMP, Minggu (27/07/14) di kontrakan Ipmanapandodei di Bogor, Jawa Barat.

Ketua Panitia HUT AMP, Natalis Iyai kepada majalahselangkah.com, Senin, (28/07/14) mengatakan,  perayaan HUT AMP terlaksana lancar atas kerja keras dan partisipasi mahasiswa Papua yang berada di wilayah Jawa Barat.

Kata dia, perayaan HUT AMP dilaksanakan Pukul 16:00 WIB  dalam bentuk Ibadah  dan berakhir Pukul 20:00 WIT. 

Usai ibadah dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun.   Kata Iyai, kue ulang tahun dipotong oleh Ketua AMP Bogor, Samuel Nawipa dan Ketua AMP Jakarta, Sony Wanimbo serta ketua AMP Bandung, Rizel Jigibalon. 

"Saling menyuap kue antara ketua dan anggota, tampak ramai," kata dia. 

Acara dilanjutkan dengan penyapaian kesan dan pesan dari masing-masing Ketua AMP komite kota. 

Ketua Komite Kota Bogor, Samuel Nawipa mengatakan, "Melalui HUT AMP ini kita sebagai pemuda yang juga tulang punggung bangsa, mari bersatu memperkuat  tali persaudaraan agar organisasi kita berjalan dengan baik".

Ketua AMP Jakarta, Sony Wanimbo mengatakan, perjuangan AMP sudah jelas, yakni hak menentukan nasip sendiri bagi rakyat Papua. Maka, kata dia, sebagai pemuda dan mahasiswa tetap bersatu menyuarakan aspirasi rakyat.

"Jangan kita tergiur dengan bujukan-bujukan dari pihak lain untuk mematahkan semangat perjuangan. Sebagai generasi muda, mari kita berjuang hak-hak kita orang Papua yang selama ini dibaikan," kata Ketua AMP Bandung, Risel yang diwakili Wenas Kobogau. (Mateus Badii/MS)
Sumber:majalahselangkah.com
Posted in: , , |

HUT Ke-XVI AMP
Foto: Seremonial Ulang Tahun AMP, Bogor/Dok. AMP

Buletin TPN, Kolonial Indonesia -- Terkait berita sebelumnyaDi Tanah Kolonial Indonesia, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Rayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-XVI. Minggu (27/07/2014), Waktu Sore di Tanah Kolonial Indonesia.

Kolonial Jawa Barat bertempat di Bogor, Jawa Tengah di Yogyakarta, dan Jawa Timur di Surabaya.
Malang dan Surabaya, bertempat di Surabaya. Jogja, Solo, dan Semarang-salatiga, bertempat di Jogja. Dan Bogor, Jakarta, dan Bandung, bertempat di Bogor.

AMP Komite Kota Surabaya, perwakilan Jawa Tengah rayakan HUT dengan diskusi bersama. Kesimpulannya, AMP tetap; Progresif, Militan, dan Patriotik di tiap-tiap individu Mahasiswa yang memburu keadilan.

"Keadilan itu akan tampak ketika, hak menentukan nasib sendiri itu diberikan kepada rakyat Papua Barat. Dan selama belum ada keadilan itu, AMP tetap lawan," tegas C. Togodli, AMP Kota Surabaya, melalui via-telepone kepada B-TPN.

Jawa Barat, AMP Komite Kota Bogor rayakan HUT dengan Ibadah bersama.

"Tanggal 27 Juli 2014 adalah yang menjadi hari paling bersejarah bagi suatu organisasi mahasiswa yang mana menamakan dirinya AMP. AMP adalah medianya Mahasiswa Papua yang rindu akan kebenaran," kata Ketua Panitia, Natalis Iyai, melalui media independen dikutip B-TPN.


Foto: Ibu Wompere, Jogja/Dok. AMP
Jawa Tengah, AMP Komite Kota Yogyakarta, merayakannya dengan Ibadah dipimpin oleh Ibu B. Wompere di Rumah Adat masyarakat Papua Barat, Aula Asrama Papua.
Tema,
 "Hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua Barat." Sub Tema, "Dengan semangat HUT AMP ke XVI, Kita tingkatkan eksistensi Mahasiswa Papua dalam memperjuangkan hak-hak demokratis rakyat Papua Barat."

Di sela-sela Ibadah, Ibu Wompere yang dipakai oleh Tuhan mengatakan, "bersama AMP yang adalah Mahasiswa Papua, pakailah dan perjuangkanlah kerinduan rakyat Papua Barat bersama Tuhan yang hadir melalui hembusan nafasmu."

"Mahasiswa Papua jangan saling menghianati, jangan konsumsi minuman beralkohol, dan tunjukkan bahwa saya adalah mahasiswa papua untuk negara saya West Papua," tambah Ibu Wompere dikutipB-TPN(Admin/B-TPN)
SUMBER:http://www.taringpapuanews.com/


Posted in: , , |

JOGYA-- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) hari ini, Minggu (27/07/2014) merayakan Hari Ulang Tahun yang ke XVI setelah berdiri pada tahun 1998 di Jakarta. Pada ulang tahun kali ini AMP di seluruh Indonesia menggelar kegiatan di masing-masing kota studi. 

Di Yogyakarta misalnya, perayaan ulang tahun dilakukan dalam bentuk ibadah singkat yang di pimpin oleh Ibu B. Wompere di Aula Asrama Papua, Kamasan I, dengan mengusung tema "Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua Barat".  

Dalam khotbahnya Ibu B.Wompore mengajak mahasiswa untuk membangun persatuan yang kuat serta menjadi panutan bagi rakyat Papua. 

"Mahasiswa adalah ujung tompak dari rakyat sehingga harus semangat dalam memperjuangkan serta membangan persatuan yang kuat. Tak hanya itu, mahasiswa juga perlu menjadi panutan bagi masyarakat, kata Ibu Wompore mengajak.  

AMP akui saat ini rakyat Papua Barat sedang berada dalam kekuasaan kolonialisme, Imprealisme global serta militerisme kolonial Indonesia membuat kehidupan rakyat Papua berada dalam bayang-bayang kehancuran sehingga bangkit berjuang dan rebut kembali kemerdekaan yang pernah dirampas oleh negara Indonesia adalah hak mutlak bagi rakyat Papua.

"Kita tingkatkan eksistensi Mahasiswa Papua dengan membangun ideologi dan nasionalisme Papua dalam pribadi mahasiswa untuk membangun semangat dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Papua Barat secara demokratis," kata Jefri Wenda, ketua AMP komite kota Yogyakarta kepada majalahselangkah.comusai ibadah. 

"HUT AMP kali ini menggelar ibadah sebagai bentuk ucapan syukur atas pertolongan yang diberikan Tuhan selama ini, serta kami berharap Tuhan juga akan membuka jalan dalam perjuangan kami ke depan untuk menyuarakan kebenaran melawan negara kolonial yang masuk ke Papua seperti pencuri," sambung Wenda.

Pantauan majalahselangkah.com, ibadah AMP yang diikuti mahasiswa Papua berlangsung aman dan lancar. (Yohanes Kuayo /MS)



Posted in: | Sunday, July 27, 2014

cewe yang cantik  biasa diincar banyak cowo,cantik menjadi ukuran memikat hati cowo2 di dunia.?

tanah papua,ibrarat cewe cantik yang direbut cowo seantero dunia,kayah Sumber daya alam mengundang penancapan besar2ran para cowo2...

cowo-cowo berwatak imperialis (as) dan klonial (ina) serta kapitalis (mnc) itu memandang papua ialah cewe cantik yg jarang dijumpai dibelahan dunia,,,,,

utk merebut cewe cantik (papua) itu para cowo2  (perampok/pencuri) itu menggunakan cara dan gayanya masing2...

cowo ganteng asal belanda yg datang pertama meminang cewe cantik (papua),dia dtng dgn cara halus,(mengajar & mendidik orang papua)

kemudian disusul cowo ganteng lain (Indonesia) merebut cewe cantik dari tangan cowo belanda dengan cara "biadab"

cewe cantik sdh minang cowo belanda (belum menikah),indonesia dtng langsung "perkosa" sekalian kawin paksa,

terjadi perebutan cowo belanda & indonesia sama cewe cantik papua?

akhirnya cowo ganteng suharto/sukrno dgn   emosional berhasil mugusik cowo belnda, indonesia kawin paksa atas restui sepihak.....

 cewe cantik sdh kawin sama cowo ganteng (ina) sekarang sdh 50an tahun namun cewe cantik itu selalu diperlakukan biadab oleh cowo itu,

cewe yg tadinya tampak cantik level dunia tp kini dirinya diwarnaii bekas luka diwajah & badannyahasil pukulan popor senjata & sepatu laras panjang,

direbut paksa,diperkosa,lalu kawin yg direstui sepihak,itu yg pernah dialami cewe cantik itu,

hingga sekarang cewe tersebut dikurung dan dipukul hingga anak cucunya mulai menangis mendambahkan cewe itu harus cerai total dgn cowo kaskado itu,

cerai dgn cowo biadab itu menjadi solusi yg diharapkan oleh cewe itu dari pada tiap saat diperlakukan binatang buruan,(!)

beberapa negarawan,berpendapat soal papua,berikut isi pernyataannya?

kami cinta emas papua bukan orang papua,tutur sby,presiden ke-6 (republik indonesia yg melingkupi sabang sampai amboina)

mantan presiden RI,Megawati,mengatakan orang papua merdeka,pergi minta sama amerika,supaya sediakan satu wilayah di asia pasifik,lalu merdeka disana,

papua itu milik Indonesia,jika orang papua mau merdeka,minta sama Tuhan,supaya Tuhan sediakan satu bulan/bintang agar orang papua merdeka disana,(pernyataan menyalitkan)

pernyataan para elit2 negara indonesia itu,ditepis seoarang agamawan di papua,misalanya Pdt Daniel Somou,

kata pdt,kami orang papua, anggap Indoensia orang tua karena sdh besarkan.mendidik kami menjadi pemberontak,

sudah saatnya orang papua bersuara untuk meminta kepada orang tua angkat (indonesia) untuk membebaskan kami dari cengkrawan,kotbah pdt dihadapan ribuan rakyat papua,tahun lalu,

hidup yg hakiki adalah hidup bebas tanpa ada penjajahan dari bangsa lain,#MGhandy

Penulis:Methu Badii alias Melukis Papua Dengan Kata
Sumber: http://methubadii.blogspot.com/2014/07/papua-ibarat-cewe-cantik-yang-diincar.html
Posted in: | Thursday, July 24, 2014
Tampak kampus FK Uncen saat dipalang mahasiswa beberapa waktu lalu. Foto: Hendrikus Yeimo

Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Sebanyak 6 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) ditahan atas perintah Dekan FK, Paulina Watofa. Mereka dinilai melakukan pengrusakan fasilitas kampus berupa kaca ruang belajar.

Kapolsek Abepura, Kompol Decky Hursepuny, membenarkan adanya penangkapan 6 Mahasiswa Fakultas Kedoteran tersebut.

"Iya, kami menahan 6 mahasiswa ini karena atas perintah Dekan Fakultas Kedokteran, Paulina Watofa. Mereka melakukan pengrusakan fasilitas kampus yang juga bagian dari alat Negara, yakni memecahkan kaca ruangan belajar di kampus Uncen beberapa waktu lalu,"  ujar Decky Hursepuny kepadamajalahselangkah.com di Abepura, Jayapura, Senin (21/07/2014) siang. 

Mereka yang ditangkap tersebut adalah, Arman Faknik, Norbert Bobi, Ekiton Weya, Yospri Wandik serta Nerianus Kogoya dipulangkan karena mahasiswa baru. 

Atas penangkapan ini, koordinator Solidaritas Mahasiswa Kesehatan Peduli Fakultas Kedokteran (SMKP-FK) Universitas Cenderawasih (Uncen) Benyamin Lagowan meminta segera bebaskan tanpa syarat karena Fakultas Kedokteran bermasalah akibat gaya kepemimpinan Ibu Paulina Watofa yang tidak beres.

"Kami minta teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran yang ditangkap itu harus dipulangkan ke rumah hari ini, karena kami berbicara berdasarkan fakta, di Fakultas Kedoteran yang ambur adul dalam kepemimpinan Ibu Papulina Watofa," ungkap Benyamin.

Koordinator SMKP-FK Uncen di kesempata nini mengeluarkan setidaknya 4 poin penyataan.

Pertama, segera membebaskan keenam mahasiswa yang ditahan tanpa syarat. 

Kedua, lembaga UNCEN harus bertanggug jawab karena indikasi penangkapan ini atas persetujuan Rektor . 

Ketiga, kami amat menyayangkan tindakan pihak kepolisian karena penangkapan dilakukan tanpa ada surat.

Kempat, kami menilai ada pembiaran dengan sengaja karena belum ada tindakan dari lembaga untuk membebaskan mahasiswa yang ditahan di Polsek Abepura. (Hendrikus Yeimo/Philemon Keiya/MS)
Sumber: Majalahselangkah.com
Posted in: |
TIMIKA – Pada hari kamis tanggal 24 juli 2014 pukul 21:50 wpb,  tiga orang anggota tentara nasional Indonesia ( TNI)  memasuki kompleks Kantor Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Parlemen Rakyat Daerah (PRD) Wilayah Bomberay,  di bendungan Timika. Guna untuk memantau kegiatan Kantor  KNPB-PRD.

Kebetulan anggota militan  KNPB  sedang berpiket malam, dan mengelilingi disekitar kompleks kantor,  ketemu dengan dua anggota TNI bersenjata dengan berpakaian  dinas lengkap berdiri di samping rumah warga di tempat yang  gelap.  Selanjutnys satu  orang anggota menggunakan kendaraan bermotor memantau di jalan pendidikan.

Lalu anggota militan KNPB  bertanya: ” selamat malam,bapak,bapak berdiri disini  sedang buat apa ditempat yang gelap sini,dan tujuannya  mau kemana”?

Jawab anggota TNI bahwa  “kami datang hanya jalan-jalan saja”. Lalu  tidak lama lagi 5 menit kemudian anggota TNI tersebut meninggalkan kompleks kantor Papua merdeka dan pulang pakai kendaraan  motor pergi kearah kebun sirih dalam.

“Apa  maksud kedatangan ketiga anggota TNI ini,kami tidak tahu” tujuan utama mereka datang kelokasi dekat kantor.

Kami mencurigai bahwa anggata aparat militer Indonesia memantau aktivitas KNPB-PRD di wilayah Timika,  karena satu minggu yang lalu tepat pada tanggal 17 juli 2014 Jutaan Rakyat Papua dimediasi oleh KNPB-PRD menggelar aksi damai nasional didepan kantor DPRD Mimika.

Sedangkan masa aksi dari SP 13 dihadang, dipukul, ditahan, sebanyak 16 orang laki-laki anggota KNPB, dan 5 orang mama-mama Papua anggota KNPB , serta  4 orang anak-anak kecil dibawah umur 2 tahun.
Dan sebelumnya juga KNPB membagi seruan boikot pilpres  Polisi dn tentara menagkap sebanyak 13 anggota KNPB ditahan lalu minta keterangan dari kepolisian.

Kami  dari KNPB dan PRD Timika menyampaikan kepada aparat militer Indonesia dalam hal TNI-POLRI bahwa perjuangan Papua merdeka bukan dengan kekerasan,  tetapi kerja kami adalah perjuangan damai, bermartabat menjunjung kemanusiaan dan menghargai hak asasi manusia.


Jadi, kami berharap TNI-POLRI dan pemerintah indonesi tolong jangan mengganggu kami,  ini Negara demokrasi bebas untuk menyampaikan pendapat dimuka umum menjamin dengan UU RI NO.9. tentang kemerdekaan Berserikat berkumpul menyampaikan pendapat dimuka umum baik secara lisan maupun tulisan.
Sumber: Knpbnewstimika

KNPB Sebagai Media Sipil Rakyat Bangsa Papua Barat Berkedudukan Di Dalam Kota Dengan Jelas Dan KNPB Tidak Berbasis Di Hutan Belantara

Status dan identitas Komite Nasional Papua Barat [KNPB] sangat jelas di Wilayahnya sendiri [Papua Barat], KNPB sejak didirikan sampai saat ini selalu jelas bagi publik lokal, nasional dan internsional, KNPB ada didalm sipil kota di wilayah teritori dari sorong sampai merauke, KNPB tidak perlu dan tidak pernah bermarkas di hutan belantara dan di kampung, KNPB berada dalam sipil kota dengan identitas Kantor Kesekretariatan yang sangat jelas dan KNPB mempunyai identitas kepengurusan dari pusat sampai wilayah juga sangat jelas serta KNPB mempunyai agenda jelas, mempunyai struktur jelas, mempunyai arahan jelas dan Status KNPB sebagai Media Rakyat Sipil Bangsa Papua Barat sedang mediasi Suara Rakyat Papua Sangat jelas.

Kami menjelaskan sekali lagi untuk Inonesia dan Polda Papua serta Jajarannya bahwa KNPB tidak mempunyai Kantor Sekretariat di Hutan Belantara Di seluruh Wilayah Papua Barat, kami mempunyai struktur jelas. Tidak ada Pengurus & Anggota serta Kantor sekretariatan KNPB yang tersembuyi Bagi siapa saja.

Dalam media lokal Kapolda Bahwa Satu markas KNPB yang digerebek pihak kepolisian yakni milik TS dan ZT. Dan, dari satu markas tersebut, polisi menemukan sejumlah dokumen-dokumen pergerakan Papua Merdeka dan Id Card keanggotaan KNPB. Selain sejumlah dokumen dan Id Card, aparat juga menemukan 2 buah bendera Bintang Kejora (BK), 1 pucuk senjata laras panjang caliber 22 jenis rakitan, 1 pasang sepatu PDL, mesin bubut, pakaian loreng, mesin potong, buku panduan tempur dan juga panduan buku intelijen.

Selain barang bukti tersebut, berdasarkan informasi dari sumber terpercaya yang diterima Bintang Papua bahwa pada Senin (21/7) dilaksanakan razia gabungan yang dilakukan aparat TNI/Polri di Kampung Warombaim, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, juga mengamankan tiga orang yang diduga merupakan anggota dari kelompok KNPB Pimpian TS dan ketiganya langsung diamankan ke Polres Jayapura untuk dimintai keterangan.

Lanjut Kapolres Jayapura pada media lokal juga mengatakan bahwa 3 orang yang di tangkap itu anggota OPM dari Delegasi Kerom dan Kapolres Jayapura mengaku tidak menangkap Pimpinan KNPB dan Anggota KNPB kampung beraf.

Pernyataan Kapolda Papua di media lokal itu sangat Jelas berupaya Kriminalisasi KNPB, pemberitaan kapolda Papua itu juga bukan benar karena sesungguhnya bicara apa ? Tidak ada Pimpinan KNPB dan Basis KNPB di Hutan Belantara sana, Pengurus Pusat dan Wilayah serta Kantor Sekretariat KNPB di Wilayah Papua Barat Berbasis Di Dalam Sipil Kota sangat Jelas. Dari Pergantian Kapolda ke Kapolda selalu berusaha Kriminalkan KNPB dan itu adalah kebiasaan Bagi petinggi kepolisian yang biasa terjadi dari sorong sampai merauke.

Berdasarkan pemberitaan media lokal tertanggal 22-23 juli 2014 KNPB menjelaskan menegaskan beberapa hal, yaitu :

1. Polda Papua Berhenti dengan upayah-upayah Kriminalisasi Gerakan Perjuangan Damai Rakyat Sipil Bangsa Papua Barat Di Wilayah Teritori Papua Barat.
2. Segera Bebaskan 3 [tiga] warga sipil yang di tangkap dan di tahan tanpa alasan apapun

3. Dengan tegas KNPB sampaikan bahwa tidak ada Pimpinan dan Anggota KNPB di Hutan Belantara [Kampung Beraf] sana.

4. Dengan tegas KNPB tidak Benarkan Pengerebekan Markas KNPB di kampung beraf, Karena Barang bukti seperti Senjata api laras Panjang, Buku Panduan Tempur dan Buku panuan intelijen itu bukan milik KNPB dan KNPB bukan Militer, Tegas.

5. Tegas juga bahwa Kalau soal dokumen dan Bendera Bintang Kejora bisa saja polisi tipu. Sebab sejak KNPB berdiri polisi selalu melakukan pengerebekan dan penyisiran di mana ada sekretariat KNPB disitu target yang selalu dan biasa polisi ambil barang-barang tersebut, maka barang berupa dokumen, Bendera Bintang Kejora dan Pakaian loreng itu saat itu polisi ambil dan saat ini polisi ambil sama saja.

6. KNPB tidak kenal nama orang TS dan ZT, tidak ada nama pengurus KNPB yang gaya penulisan begitu.
7. Kapolda Papua perlu ketahui bahwa KNPB bukan Teroris, Kelompok Kriminal, Pengacau Keamanan dan bukan Militer Pro Papua Merdeka tetapi KNPB sesungguhnya Media Nasional Rakyat Papua Barat yang terus media Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua Barat berdasarkan Mekanisme internasional

8. KNPB tidak ada kelompok-kelompok baik di pusat maupun wilayah, KNPB yang benar mediasi Rakyat Papua Menuntut Hak Politik Melalui Mekanisme Internasional.

Sesungguhnya KNPB memperjuangkan dan mediasi Hak Politik Rakyat Papua Barat secara Damai dan Bermartabat, Pada umumnya Rakyat Sipil Bangsa Papua Barat sudah sadar kalau dan paham tentang hak penentuan Nasib politik Bangsa Papua Barat, KNPB akan terus mediasi Rakyat Sipil Bangsa Papua Barat untuk Melakukan Perjuangan dan Perlawanan terhadap kolonialisme dengan Damai dan Bermartabat.
Demikian Peryataan Pers KNPB dan atas Perhatian KNPB sampaikan Berlimpah Terima Kasih.
Port Numbay, 24 Juli 2014
Badan Pengurus Pusat
Komite Nasional Papua Barat [KNPB]

Agus Kossay Bazoka Logo
Ketua I Jubir Nasional
Posted in: |
Mama-mama Papua sempat dipukul ditendang dan dihadang oleh pihak kepolisian Indonesia , saat  Mama-mama Papua sedang mengikuti Aksi damai Nasional yang dimediasi oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Parlemen Rakyat Daerah (PRD) Wilayah Bomberay. Pada  Kamis (17/07/2014).

Aksi damai tersebut, polisi menghadang mama-Papua dan  Lima orang mama  ditangkap bersama anak-anaknya usia dibawah dua tahun, dan dipukul pakai popor senjata oleh Polisi.

Salah satu mama Papua sempat mengakui bawah, kami benar-benar di pukul  datangkap depan pasar SP 02, Kemudian Polisi dan Intel membawah kami ke Polres  Mimika Mil 32, jalan Agimuga No. 3 Timika. Untuk pemeriksaan.

“Dalam Proses pemeriksaan kami sempat diancam dan dicaci maki oleh pihak kepolisian, lalu kami juga memberikan keterangan sesuai dengan  apa yang polisi mau” Ungkap  salah satu mama Papua kepada KNBPBNews Timika.

Lanjut, mama Papua dengan tidak senang dengan tindakan Polisi yang memukul kami dengan Alat Negara yakni Senjata, kami tahu bahwa senjata adalah alat Negara, tetapi dilapangan tidak seperti itu. Polisi menggunakan senjata untuk memukul kami dan memukul kita semua yang ditahan sebanyak 25 orang baik perempuan maupun laki-laki.

25 aktivis Knpb yang ditahan oleh polisi terdiri dari  Lima Orang mana Papua yaitu, 1. Diana Wenda, 2. Eliana Tabuni, 3. Amerina Tabuni, 4. Lepina Wenda, Merlin Wenda.

“Dalam aksi Damai Nasional Wilayah Bomberai banyak mama-mama Papua yang mengambil bagian dalam aksi tersebut”. Tujuan bersama untuk memnyampaikan aspirasi rakyat Papua.

Ini tuntutan aksi pertama,  Indonesia segerah membuka ruang demokrasi seluas-luasnya bagi rakyat Papua, untuk mementukan nasib sendiri melalui mekanisme “Referendum”,

Yang kedua, Indonesia segerah bebaskan Tahanan Politik (Tapol) Narapidana Politik (Napol) Papua merdeka seperti  Victor Yeimo  (Ketua Umum KNPB)  , dan Filep Karma Aktivis Papua merdeka, serta aktivis Papua merdeka lainnya.

Kemudian yang Ketiga adalah Polda Papua  segerah Hapuskan Daftar Pencarian Orang (DPO) seperti Ketua Umum Parlemen Nasional West Papua (PNWP) Tn. Buctar Tabuni dan aktivis Papua merdeka lainnya.

Foto-Foto;












Followers